RSS Feed

>Belajar jadi Ibu Pembelajar ;)

Posted on

>

Mencoba share pelajaran dari milis tetangga:
———————————————–

SELAMAT MENEMPUH UASBN, PUTRIKU…
Malam tadi, malam yang kuciptakan serileks mungkin,
karena hari ini sampai 3 hari ke depan, putri sulungku, Hurin, akan menghadapi
UASBN, ujian nasional untuk anak kelas 6. Upaya mendampinginya belajar
kemarin-kemarin, kurasa cukuplah. Tapi tidak perlu belajar malam ini,
ngobrol-ngobrol ringan saja dan tidur agak awal. Juga tentu
mengingatkan untuk berdoa pada Nya.
“Bu, kalau nilai UASBN-ku 26
lebih, atau ke-3 pelajarannya nilainya 8 lebih, aku mau bernadzar
puasa, boleh?” tanya kak Hurin, kemarin petang.
“Oh, Subhanallah, tentu saja boleh. Nadzar puasa berapa hari?”
“Satu hari aja sih. Tapi salah satu target itu tercapai, aku tetap puasa”
“Maksudnya, kak?”
“Iya,
tadi kan mau nadzar kalau UASBN nya 26 ke atas., atau nilainya diatas 8
semua. Jadi, kalau kurang dari 26 tapi nilainya di atas 8 semua, juga
tetap puasa” katanya menjelaskan.
Tiba-tiba, rasa haru menyergap
hatiku. Subhanallah,  gadis kecilku sudah berpikir dewasa sekarang,
bahkan saat tanda2 baligh secara biologis belum terjadi pada dirinya.
Lalu, malam harinya, menjelang tidur.
“Bu, manfaat sholat tahajud itu sebenarnya apa sih?” tanyanya lagi
“Ooh, banyak kak. Itu sunnah yg utama. Lagi kan malam hari sepi, jadi kita enak berdoanya” jawabku.
“Aku pingin sholat tahajud bu, biar UASBN-ku sukses”
Kembali aku disergap haru biru. Subhanallah, Engkau lah yang menggerakkan hatinya, ya Rabb…
“Oya,? Bagus itu. Kalau gitu, HPnya dipasang alarm jam 3-an, biar bisa bangun”
“Tapi….
kan aku suka susah bangun bu, biar sudah pasang alarm. Gimana dong?
Lagian kamarku di atas, mau wudhu dan sholat mesti ke bawah” ujarnya,
tampak ragu.
“Emm, gini aja. Sementara kakak pindah di bawah. Kamar
depan kan kosong. Biar ayah atau ibu bisa memastikan kakak benar2
bangun untuk tahajud. Gimana?”
“Iya deh..”
Dan malam

tadi, ternyata tak cuma kak Hurin yang ikut bertahajud, tapi juga
adiknya, Adnin (klas 3 SD), yang dasarnya mudah sekali terbangun jika ada suara
berisik, pun ikut sholat tahajud. Adnin bahkan ikut sholat subuh ke
masjid bersama ayahnya. Alhamdulillah.
Jadi ingat masa kecil
sendiri. Seusia Adnin waktu itu, klas 3 SD juga, sudah menjadi rutinitas
ikut ibu sholat subuh di masjid dekat rumah. Suatu hari, aku bangun
geragapan, kesiangan. Menyadari subuh telah lama lewat, aku menghampiri
ibu. Lalu beliau menjelaskan, pagi itu aku sengaja tak dibangunkan
karena ibu melihat kemaren aku sangat kelelahan dan tidur larut malam,
tak tega. Tapi, mendengar penjelasan ibu, bukannya aku memahami, malah
tetap menangis, kecewa, karena tak bisa ikut jamaah sholat subuh seperi
biasa. Maafkan aku ibu… menuntut hal yang tak pada tempatnya😦
Rabbi, semoga rutinitas ibadah yang seperti ini pun bisa kubudayakan di keluarga kecilku, kini.
Dan,
pagi tadi, usai sholat subuh, aku sempatkan tilawah beberapa halaman.
Tak lama kemudian, kulihat, Adnin menenteng Qur’an-nya ke kamar. Sambil
diseling minum susu coklat kesukaannya, ternyata dia ikut tilawah juga.
Aku tersenyum melihatnya. Kembali terharu.
Lalu, saat aku mengangkat dede Hibban yang mulai terbangun, kak Hurin mendekatiku, bertanya, “Bu, al Ma’tsurat dimana?”
“Oh, kakak mau baca? Ada di tas ibu tuh. Sini2 kita ma’tsuratan bareng aja”
“Ibu sudah hafal? ” tanyanya
“insya Allah” jawabku sambil tersenyum.
“Aku baru setengah hafal, Jadi harus sambil lihat” kata kakak.
Sejurus
kemudian, berdengunglah suara ibu dan anak ini mengucap kalimah demi
kalimah dzikir alma’tsurat. Syahdu terasa di hatiku. Terus terang, baru
kali ini aku matsuratan berdia dengan putriku ini, justru di pagi
menjelang dia akan berangkat ujian.
Baru setengah jalan
berma’tsurat jama’i, Adnin yang baru selesai tilawahnya, masuk ke
kamarku, dan kuajak ikut bergabung sekalian membaca al-matsurat
sebisanya. Bagi Adnin, ini memang agak asing, tapi semoga lama-lama
terbiasa.
Pagi ini, terasa penuh jiwaku ini dengan rasa
haru. Keajaiban pagi hari yang begitu indah telah kurasakan,
mengalahkan hidangan selezat apa pun yang telah tersedia di meja makan.
Terbukanya pintu hati seorang anak, ‘hidangan’ nikmat apa lagi selain
hal itu?
Melihat niat dan kemauan dari dua gadis kecilku,
dengan inisiatif sendiri, melakukan selama ini yang mungkin mereka
lihat pada orang tuanya. Tanpa paksaan, bahkan tanpa ajakan. Murni
inisatif sendiri.
Rabbi, ampuni aku jika aku belum bisa menjadi contoh yang paripurna bagi mereka ….
Betapa anak-anak membutuhkan banyak contah
keseharian, yang kemudian hal itu akan masuk dalam jiwa mereka, menjadi
azzam yang kuat, bahkan tanpa mereka sadari.
Hingga
momen UASBN seperti ini bukan menjadi momen yang tegang menakutkan,
tapi menjadi momen syahdu penuh ibadah, pasrah pada ketentuan-Nya,
setelah ikhtiar basyariah coba dikejar pada beberapa waktu sebelumnya.
Duhai putriku
Pergilah dengan tenang ke sekolah
Hadapi soal2 di depanmu dengan ketelitian
dan penuh kejujuran
setelah upaya tak kenal jemu
dan doa panjang tiap waktu
Kini saatnya ayah ibu pasrah
akan taqdir-Nya untukmu
apapun itu
Insya Allah, Dia tak akan mengecewakan hambaNya
yang telah giat berusaha
Selamat ujian anakku, doaku menyertaimu
#pamulang, 10 Mei 2011

————————————-

Pagi ini, hari pertama dari terbebasnya aroma laporan bulanan, akhirnya menyempatkan diri untuk menengok milist yang uda 10 hari tak terbaca dengan ‘cermat’.
Bu Mukti, seorang kawan di milis menuliskan ceritanya hari ini.
Dan here we are, mencoba nge share tulisan beliau, karna ada rasa haru ketika membacanya.
Cerita polos apa adanya yang tertuang dalam tulisan itu menggambarkan bagaimana seorang ibu telah mencapai haru ketika melihat buah hatinya lekat dengan Allah.

Terus terang, saya kagum. Sebagai seorang permpuan, dan insya Allah akan menjadi ibu, kita memang memiliki tanggungjawab luar biasa atas bangsa ini.
Bisa dibayangkan, bagaimana generasi kita jika anak-anaknya seperti kak Hurin atau Adnin?Subhanallah..
Makin kagum saya pada seorang ibu rumah tangga yang tugasnya melebihi perhitungan segala aspek manajemen perusahaan, atau mempertanggungjawabkan segala pencatatan pelaporan keuangan perusahaan.

Jangan pernah menganggap ibu rumah tangga itu mudah, bahkan ibu rumah tangga yang ikhlas mendidik anak2nya adalah pemilik nilai tertinggi di mata Allah dibanding ibu-ibu yang sangat berhasil dengan karirnya, namun tidak begitu mengenal sosok anak dan suaminya.Naudsubillahmindalik. Bukan tanpa fakta, pada kenyataanya memang demikian. Saya mengenal ibu yang berhasil dalam bidang pekerjaanya, tapi sayang, rumahnya penuh dengan kekakuan cengkrama.

Membayangkan saya, rasanya masih sangat perlu belajar. Seperti yang Bu Mukti bilang, betapa anak-anak membutuhkan contoh yang akan masuk dalam jiwa mereka, menjadi azzam yang kuat, bahkan tanpa mereka sadari, maka akan sangat tidak mungkin anak-anak kita bersholat jamaah, jika kita saja malas ke masjid/mushola/ langgar.

Menjadi ibu itu anugerah,
menjadi ibu itu membanggakan,
menjadi ibu itu kunci keberhasilan atau kehancuran suatu kaum,
menjadi ibu itu KEBANGGAAN..

yuk belajar jadi ibu favorit ;)”

About Orange

Istri dari suami yang super yang punya mimpi untuk PULANG dan menjadi pendamping hebat untuk suami. Masih punya cita2 untuk berkarya dirumah dengan menjadi ibu dari anak2 yang sholeh-sholehah. Namun, sekarang masih harus mengasah kesabaran untuk tetap belajar menjadi karyawan sebuah perusahaan dg jam kerja...Masyaallah...

2 responses »

  1. >Subhanallah …. insyaALLAH dg keyakinan umi untuk berusha menjadi istri dan ibu dari anak qt nanti, abi yqin dg segla kemampuan umi abi yqn bhw umi pasti bisa membimbing anak qt nanti .. insyaALLAH "my co pilot/navigator" abi pasti bisa … Manjadda Wajjadda … Bismillah

    Balas
  2. >Manjadda Wajadda…bismillah…luv u my, pilot ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: