RSS Feed

>Hati kami (red:perantauan) juga bergetar: "Kami ingin pulang menemani keluarga"

Posted on

>

Kebangeten kalo sampe ada yang ga tau kabar yang santer sekarang ini. Yak, merapi. Di media dalam bentuk apapun, di kantor, bahkan di majelis2, tema bencana letusan gunung berapi yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta ini menepati rangking pertama. Tanggal 26 Oktober lalu tepatnya, merapi, sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan DIY dan Jateng ini tiba2 terbatuk mengeluarkan isi perutnya. Tanpa adanya sangkaan sebelumnya, wedhus gembel mulai memenuhi langit. Setidaknya itu yang kudengar saat pertama kali menonton beritanya setelah pagi harinya sempet dikasih tau abi..
Sudah menjadi hal yang biasa si merapi memuntahkan wedhus gembelnya, itu sangkaanku.. Tapi ternyata salah, tidak untuk kali ini, merapi tak mau berhenti terbatuk dan terus mengeluarkan muatan di dalamnya. YA, gunung yang sejak lama tertidur itu telah dibangunkan olehNYA, Sang Penciptanya…
Kaget ketika setelahnya mendengar kata ‘evakuasi’ di lontarkan. Itu berarti, ini benar2 bencana, dan segera merinding setelahnya.
MEski jauh dari pusat gunung, kecemasan mulai mengerubungiku.. segera kuhubungi semua keluarga.. Alhamdulillah, semua baik2 saja, meskipun ya, hujan abu katanya memang meluas. Hujan abu? Selama 23 tahun menjadi warga jogja, hujan abu tak pernah sekalipun kurasakan,itulah kenapa ledakan kali ini membuatku panik.
dan benar, esoknya, berbagai status temen, saudara, tetangga di facebook bertema sama: Merapi dan hujan abu. Seketika ingatan langsung ke ponakan yang punya sakit asma, berdoa dalam hati, semoga ia baik2 saja… Hhhff, ini dia, media mulai menciptakan berita yang ‘lebay’ dan membuat panik, just as ussually…
Makin lama, ketenangan makin terusik dengan berita2 banyaknya yang menjadi korban, sementara yang mengungsi mencapai puluhan ribu orang. Masyaallah, ada apa ini, pikirku… Bertubi2 bangsa ini terus dihujani bencana… Oia, sebelum merapi mulai ramai di bicarakan, sehari sebelumnya, tsunami datang menerjang mentawai, sebuah pulai di sumatera barat. Saat itu cukup terasa karna kebetulan sedang berada di udiklat padang. Alhamdulillah, padang baik2 saja…
Tapi tetap saja, sebuah pemikiran terus mengerubutiku, bagaimana bencana2 ini terus menerus menerpa negeri ini? Sudah tak adakah lagi orang2 yang memperjuangkan agama Allah di negeri ini?? Innalillahi…
Ok, back to topik..
Bukan menjadi alasan untuk tenang karna jauh dari bencana sepertiku ini. Justru jika boleh jujur, ingin sekali berada di rumah pada saat2 seperti saat itu. Ingatanku kembali membawaku saat gempa jogja 2006 lalu.. Dimana2 kepanikan terjadi…bangunan2 tetangga roboh, tangis meruah.. Yang saat itu dirasakan hanya ingin memohon ampun seampun2nya..Memberi sebanyak2nya dan membantu sekuatnya…
MAsyaallah, bagaimana dengan sekarang, sering berpikir aq cuma bisa ikut sedih ketika menonton di stasiun tivi atau di news update dari internet, tapi tak mampu melakukan apapun, minimal untuk keluarga dan saudara yang terkena dampaknya. 
Dan akhirnya, kemampuanku hanya bersujud dan memohon Allah untuk menahan merapi kembali, menjadikannya bersahabat kembali, dan mengampuni bangsa ini. Ada sebuah rasa ketakutan tersendiri bagi kami yang meninggalkan keluarga.. Karna saat ini bencana bukan lagi hal asing di negri kita, entah kenapa rasanya ingin berada di tengah2 mereka untuk tetap menjaga, setidaknya mampu memberikan dua tangan ini untuk memeluk dan saling menguatkan…
Kami ingin pulang…. Jika kami boleh mengungkapnya…Kami ingin bersama keluarga menghadapi ini semua…
Masih berkaitan dengan bencana ini, alhamdulillah jumat lalu sempet dapat ilmu ketika kajian.
Dulu ketika pada jaman sepeninggal Rasulullah SAW dan Abu Bakar, klo ga salah inget pas jaman kekhalifahan Umar bin Khatab, bencana gempa bumi sempat menegur umat Islam. Saat itulah Khalifah Umar mencari apa yang menjadikan Allah memberi guncangan itu dan menyuruh rakyatnya untuk bertaubat.
Masyaallah, dibanding dengan sekarang, Allah beri tsunami, gempa berkali2, banjir, angin ribut dan sekarang gunung meletus, tapi kenapa kemaksiatan tetap terjadi di depan mata? BEncana2 itu seolah cuma iklan yang terlihat lalu terabaikan… Tak cukupkah semua itu membuka hati?
AStagfirullah, semoga Allah tak menutup hati kita dari setiap pelajaran yang menjadikan kita menyadari dunia seisinya ini yang tak abadi.
Finally,
semoga merapi tak lagi terbatuk,,,
Semoga Allah berikan kita kesabaran dan ketabahan..
Semoga Allah karuniakan hati yang senantiasa belajar
Semoga bangsa kita mampu belajar dari semua ini, termasuk kita..
Robb, maafkan kelalaian kami, cukupkan teguranmu dan ampunilah kami… \
–semoga bermanfaat–
maaf klo ada salah2..
kantor, dalam keakutan ngantuk..

About Orange

Istri dari suami yang super yang punya mimpi untuk PULANG dan menjadi pendamping hebat untuk suami. Masih punya cita2 untuk berkarya dirumah dengan menjadi ibu dari anak2 yang sholeh-sholehah. Namun, sekarang masih harus mengasah kesabaran untuk tetap belajar menjadi karyawan sebuah perusahaan dg jam kerja...Masyaallah...

One response »

  1. >Subhanallah …. i proud of U honey :)InsyaAllah meskipun umi tidak bersm kami, dg doa dan mengurangi rasa kekhawatiran umi akan kami di sini, akan ad pahala tersendiri bg umi serta jg akan sngat bermanfaat bagi kami di jgj :)klo kta bpk/ibu : "jamane wes tuo, makane sring2 gempa" … ad benernya jg, y skrng tinggal kita sndiri mau menanggapiny spt ap dari sekian bnyak teguran, cobaan yg kita terima dari Yang Maha berkehendak, smg kita bs mengambil hikmah dari ini semua, mari kita mulai berbenah diri dari diri kita masing2, smg Allah SWT senantiasa melindungi kita semua … Amien.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: