RSS Feed

>7 Keajaiban Rejeki (review part 1)

Posted on

>

 Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, maka aku akan membunuhnya
-Khalifah Ali-

 Ehm..ehm..

Assalamu’alaikum smua..
Masih nyambung postingan sebelumnya tentang bukunya mas Ippho Santosa yang masih bikin penasaran. Nah, sekarang nich uda kelar bacanya, uda sejak lusa kemaren siy, tapi baru sempet posting sekarang. Nah, sesuai pesan di buku tsb, skr buku saya sudah berpindah tangan untuk sementara waktu a.k.a dipinjemin ke temen. 

Personally, saya menyukai buku seri-otak-kanan seperti 7 keajaiban rejeki ini karena membacanya seperti kembali melakukan perjalanan ke otak kanan saya yang memang dominan walaupun secara nyata saya bergerak di bidang angka2 gila (red: akuntansi). Thats why, saya merupakan oknum di wilayah bidang saya. Lha gimana ga oknum kalo pemikiran saya memang sangat sering, saya ulangi: sangat sering bersebrangan dengan kawan2 sejawat. Contohnya, saya memang cenderung memilih menjadi pihak yang mengandalkan keyakinan ddalam hal memohon kepindahan tempat kerja dibanding ribet mencari koneksi sana sini. Jadi tak heran kenapa saya sering dianggap aneh dan ga logis (aneh koq jumawa (: ). Contoh sepele pernah saya ceritakan di postingan beberapa waktu lalu mengenai deskripsi pada suatu foto yang mendapat protes keras dari temen2 tentang tulisan yang menjadi baground dekstop PC kerja saya tersebut. Sepele, tapi cukup membuat saya ter’cap sebagai makhluk langka lagi.

Ga masuk akal, ga logis, itu adalah ciri manusia golongan kanan, begitu kata mas Ippho di buku tersebut. Pendapat golongan kanan memang ndak bisa diterima oleh logika yang ada di otak kiri. 

Singkatnya, 
buku mas Ippho ini mengungkap rahasia bagaimana meledakkan rejeki dalam 99 hari atau bahkan kurang. Yang belum baca pasti lansung komentar “Gimana bisa?!”. Itulah kenapa meski di dalam pesawat, ngantuk saya hilang begitu menelusuri kata demi kata dalam buku dengan 191 halaman ini.


Mas Ippho merangkum masing2 ‘dinamit’ ajaib itu dalam 7 keajaiban (namanya juga 7 kejaiban rejeki):

1. Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri)


  Mas Ippho menyebut sidik jari karena sidik jari satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Begitu juga pribadi masing2 manusia. Yang saya tangkap dari bab ini ada LOA. Apa itu LOA? LOA ada Law of Attraction atau Hukum tarik menarik. Tapi tunggu dulu, ini ga ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan alam yang dulu kita pelajari di sekolah. Jauuuh…


Dalam hal ini, yang erat kaitannya dengan LOA yaitu doa, atau impian dan harapan. Ketiganya sama yang jika ditingkatkan makan daya tarik kejadiannya akan semakin kuat pula. Allah itu sesuai dengan prasangkaan hambaNya, itu intinya. Jadi semakin kita memohon, semakin kita YAKIN kita mampu, maka semakin dekat hingga akhirnya dapat mewujudkannya. 

Huh, dengan membaca bab ini, saya mulai mengawali untuk menanam khuznudhon’isme terhadap diri saya sendiri. Contohnya: “Yak, din, kamu pasti sebentar lagi punya lapak dagang dengan keuntungan yang mengalir seperti air! Gampang untuk Allah ngasih omset 50 juta per bulan”. Tanamkan..tanamkan!! Onion Icons >> lebay

 
2. Sepasang Bidadari

 
Keajaiban yan kedua adalah dengan menganyam senyuman di wajah sepasang bidadari. 

Bidadari pertama adalah ibu. Orang tua pada pokok umumnya. Ridho orang tua adalah ridho Yang Maha Kuasa, dan kesuksesan tidak mungkin tanpa keridhaan ortu. Doa ortu juga merupakan kunci pintu rizki yang sangat ampuh. Di bab ini mas Ippho memaparkan pengalaman-pengalaman para pengusaha yang telah mencapai kemapanan financial atau kesuksesan karena peran dan doa orang tua.

Turunnya bidadari yang kedua adalah istri, atau pasangan kita secara bahasan umumnya. Dengan menikah maka pintu-pintu rejeki yang masih tertutup akan terbuka.

Hormat dan menghargai orang tua dan pasangan hidup kita sangat menunjang kesuksesan seseorang. Karena hal tersebut akan membawa kebahagiaan bagi masing-masing yang berdampak positive bagi kehidupannya sehingga memacu hasil yang positif pula sesuai dengan apa yang diimpikannya.

Nah lhoo, makanya yang belum nikah, buruan nikah gih, biar pintu rejekinya cepet terbuka. Ga percaya??? Siapa bilang nikah bikin miskin? siapa bilang nikah bikin sengsara? Menikah itu tuntunan, dan tidak mungkin tuntunan itu merugikan. Hehehe, buktiin aja! Onion Icon

Hosh..hoshh…
Capek, dilanjut nanti ya, biar ga kepanjangan kek jurnal atau esay.. 


wait for next part.. ^^


-semoga bermanfaat-





>7 Keajaiban Rejeki "yg masih bikin penasaran"

Posted on

>

Ini belum awal bulan, dan tentunya masih kosong pekerjaan yang ada di meja. Pada tepatnya karena memang ‘jualan setrumnya’ belum tutup buku untuk bulan ini.

Tadinya hari ini mau menghabiskan bukunya mas Ippho Santosa yang kurang 2 bab lagi setelah saya baca sejak kemaren sore. Tidak biasa sebenarnya saya tahan untuk baca di atas kendaraan, apalagi lebih dari 1 jam. Untuk novel bestseller internasional aja masih saja mampu membuat saya tidur dengan nyenyaknya di kendaraan. Tapi tidak untuk 7 Keajaiban Rejeki karya mas Ippho ini.

Awalnya memang saya sudah ngantuk, tapi karna posisinya ga bisa tidur di tempat umum.. (red: ruang tunggu), jadi saya mulai membaca 7KR yang niatnya dibaca besoknya aja di kos.
Dan hasilnya, bukan cuma bisa membunuh waktu dan menghilangkan kantuk saya, tapi juga membuat saya tak berpaling saat ada dua anak kecil dengan aksi lucunya di depan saya. Ehm, untuk anak kecil ini, biasanya mereka adalah penarik perhatian bagi saya.. Maklum, mom wanna be, kalo bahasannya twitter #momwannabe. hehehe.

Bahasa yang dipaparkan jauh dari kesan menggurui, namun seperti sahabat yang menasehati. Yang sangat saya sukai dari mas Ippho adalah caranya yang menyajikan dengan menghubungkan semuanya dengan nilai2 Islam, namun mencontohkannya dengan cara yang universal. Sungguh saya sangat terkesan..

Dan sekarang, masih kurang 2 bab lagi karna semalam memang sudah tepar. Tadinya berniat membacanya di kantor saat luang seperti ini, tapi termyata ga klupaan..hehehe.. Nah, makanya pengen buru2 pulang dan segera kembali melahap tiap katanya, mencerna jalan-jalan menuju keajaiban dengan otak kanan.

Beidewei soal otak kanan ini, seribu persen saya tidak pernah meragukannya. Bahkan bisa dibilang buku ini menguatkan perasaan saya selama ini. Yang saya sesalkan, kenapa ga dari dulu buku tersebut terbit… atau kenapa ndak dari dulu2 saya buat buku seperti itu, hehe,,,kalo yang ini semacam ngaco.

Nah, karna buku ini juga saya benar2 menuliskan impian2 saya dengan detail. Dasar otak kiri, masih saja mempengaruhi saya utk kmuadian membatin, “mungkin ga, ya..koq kayanya susah”. Tapi, dengan modal ‘berpura2 terjadi, maka dengan gagah akan saya tantang otak kiri saya dengan:”Bisa koq, ini mah kecil untuk Allah, harganya kan cuma seperti menjual komponen setetes embun pagi”.
Kenapa harus ribet, mulai aja dari sekarang, dan saya sedang mempraktekkannya, satu demi satu…

NExt, kita bahas di post lain utk ini..setelah 7 Keajaiban Rejeki, Marketing is Bullshit sudah menunggu di antrian belakangnya. Thx utk mas Ippho atas bacaan segarnya…yang menggugah kesadaran otak bawah sadar..

^^

>Ilmu tersebar meski sudah tiada… (Nurul F Huda)

Posted on

>

Dan saya kembali belajar tentang hidup dari seseorang yang kabar ketiadaannya saya dengar pagi ini lewat twitter penulis favorit, asma nadia.

Yap, Nurul F Huda, beberapa kali namanya memang kulihat di toko2 buku. Maka ketika ada kabar di twitter, segera aq menuju milis, dan benar aja,,,sederetan doa dari sesama penulis hingga anggota milis biasa seperti saya mulai tersusun dalam inbox. Disusul dengan goresan cerita dari kawan penulisnya mbak Mukti Amini tentang memori perbincangan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pagi ini pukul 03.15 di RSUD dr. Sardjito, Jogja.
Terus terang, saya tidak begitu mengenal sosok ini. Namun, kemudian saya ingat beberapa buku yang dulu sempat saya pinjam dari teman seangkatan sewaktu kuliah adalah karyanya (minjem sich, jadi ga nongkrong di rak koleksi buku..hehe). Dari situ saya mulai mencari tau sosok Nurul F Huda ini lewat mbah gugel. Dan benar dugaan saya, penulis memang nggak jauh2 dari blog, dan akhirnya saya menemukan blog, twitter, hingga FB nya yang sudah penuh dengan ucapan belasungkawa dan doa.
Blog nya menarik, dan penuh dengan muatan ilmu ‘keperempuanan’. Goresan tiap katanya mudah dimaknai dan penuh pemikiran. Ah, kemana saja saya baru tau, padahal saat cerita itu diterbitkan saya tentu saja masih ada di Jogja, kotagede, yang  tidak jauh dari Piyungan, tempatnya dan kedua putra putrinya.
Baru sekilas asaya membaca beberapa postnya, dan saya belajar. Satu lagi ibu dan muslimah sejati di mata saya yang patut menjadi contoh kesabaran dan perjuangan. Next post, akan saya sunting tulisannya yang sangat apik tentang “Perempuan Rumahan” dan “Calon Menantu” yang menggelitik namun menggoreskan ilmu dan renungan.
Nurul F Huda.. Sekarang ibu itu telah tiada, meninggalkan dua jundinya yang masih kecil karena kondisi jantung bawaannya. Namu kehebatannya berjuang cukup membuat saya terkagum dan haru. Semoga Allah memuliakannya, karna baru 12 jam ketiadaannya, ia bahkan masih menyumbang ilmunya untuk saya, dan perempuan lainnya.
I wanna be like her… memberi ilmu meski telah tiada..

>Rumah itu tenang…

Posted on

> Menanggapi pemikiran kawan yang ‘ga terima’ dengan analogi gambar kursi yang saya hadirkan di dekstop layar kerja saya (red: seperti gambar header blog ini).

Oke, begini kronologinya,
gambar ini saya dapat dari pencarian dengan keyword “retro” saat iseng-iseng mengisi waktu luang kala itu. Niatnya sich, nyari perpaduan warna yang bisa menjadikan komposisi ‘retroisme’ (LOL, wat kind of word ist). Haha, ga tau kenapa retro terlihat unik dan seksi di mata saya selama ini.
Back, saya melihat gambar ‘si kursi’ ini. Terlepas dari backgroundnya yang bernuansa orange-coklat favorit saya, bentuk kursi bulat itu terasa nyaman di pikiran saya. Dipadukan dengan lantai kayu dan pencahayaan senja dalam angan. Maka, deskripsi yang terangkat adalah “KENYAMANAN”.

Di dalam gambaran saya, kursi itu ada di sebuah ruang kosong. tanpa pernik rumit. Bertujuan untuk menghabiskan penat dunia atau sekedar melahap koleksi buku dan menghindari kebisingan polusi suara.. maka deskripsi yang kemudian terangkat lagi adalah “KETENANGAN”.

Berpegang pada prinsip saya: “BAITI JANNATI”, lagi-lagi, saya unduh gambar itu dan mengeditnya dengan photoshop untuk menonjolkan unsurnya. Dengan efek grausian blur sedikit, disertai difuse glow sedang dan tulisan “home.

Nah, tulisan ‘home’ inilah yang kemudian diprotes seorang kawan, bahwa tulisan tersebut tidak sinkron dengan gambarnya. Saya biasanya punya hobi debat untuk memberi pengertian. Tapi kali ini tidak. Karna bagaimanapun memang tidak akan nyambung. Lha gimana nyambung kalo dia memberi deskripsi dengan otak kiri, sedangkan saya kanan. Jadi memang dia ndak salah. Tetap benar. Karna, pastilah anak TK juga akan mendeskripsikan gambar rumah dengan segitiga yang diletakkan di atas persegi. Right?

Saya jadi ingat dengan beberapa oleh-oleh suami setelah membaca bab-bab awal “7 keajaiban rejeki” karangan mas Ipho Santosa. Menurut sinopsis yang sempat saya baca, mas Ipho menuliskan hal-hal yang hampir tak mungkin terpikirkan oleh otak kiri kita untuk mencapai suatu harapan dan impian. Beliau memaparkan betapa dasyatnya otak kanan yang berpikir secara kreatif, penuh keyakinan dan landasan doa yang mengawali karir dan rumah tangganya. Dan benar saja, baru 2 bab yang suami saya ceritakan, sudah mampu membuat saya bertekad pagi ini untuk memperbaiki pola pikir otak kanan.

Mengasah otak kanan kita dengan kreatifitas dan segala hal berbau seni, memantapkannya dengan doa dan ilmu logis otak kiri kita. Maka, saya mulai sadar kenapa akhir-akhir ini, hasrat menulis dan menggambar, bahkan mengedit photo mulai menurun… hmmmm…mungkin karna setiap hari saya harus berhadapan dengan data-data berupa angka-angka dan angka. Hitungan dari 0, hingga bernilai trilyunan.
 (ok, betewe, pembahasan mule meluber kemana-mana)

Ok, balik ke topik aja, next time akan kita bahas bagaimana kerja si otak kanan ini sehingga ia bisa membuat seorang Ipho Santosa, dan bahkan ponakanku dapat merubah nasibnya. Subhanallah bagi Allah yang menciptakan kita dengan segala kelebihan..

–semoga bermanfaat– ^^

>Belajar jadi Ibu Pembelajar ;)

Posted on

>

Mencoba share pelajaran dari milis tetangga:
———————————————–

SELAMAT MENEMPUH UASBN, PUTRIKU…
Malam tadi, malam yang kuciptakan serileks mungkin,
karena hari ini sampai 3 hari ke depan, putri sulungku, Hurin, akan menghadapi
UASBN, ujian nasional untuk anak kelas 6. Upaya mendampinginya belajar
kemarin-kemarin, kurasa cukuplah. Tapi tidak perlu belajar malam ini,
ngobrol-ngobrol ringan saja dan tidur agak awal. Juga tentu
mengingatkan untuk berdoa pada Nya.
“Bu, kalau nilai UASBN-ku 26
lebih, atau ke-3 pelajarannya nilainya 8 lebih, aku mau bernadzar
puasa, boleh?” tanya kak Hurin, kemarin petang.
“Oh, Subhanallah, tentu saja boleh. Nadzar puasa berapa hari?”
“Satu hari aja sih. Tapi salah satu target itu tercapai, aku tetap puasa”
“Maksudnya, kak?”
“Iya,
tadi kan mau nadzar kalau UASBN nya 26 ke atas., atau nilainya diatas 8
semua. Jadi, kalau kurang dari 26 tapi nilainya di atas 8 semua, juga
tetap puasa” katanya menjelaskan.
Tiba-tiba, rasa haru menyergap
hatiku. Subhanallah,  gadis kecilku sudah berpikir dewasa sekarang,
bahkan saat tanda2 baligh secara biologis belum terjadi pada dirinya.
Lalu, malam harinya, menjelang tidur.
“Bu, manfaat sholat tahajud itu sebenarnya apa sih?” tanyanya lagi
“Ooh, banyak kak. Itu sunnah yg utama. Lagi kan malam hari sepi, jadi kita enak berdoanya” jawabku.
“Aku pingin sholat tahajud bu, biar UASBN-ku sukses”
Kembali aku disergap haru biru. Subhanallah, Engkau lah yang menggerakkan hatinya, ya Rabb…
“Oya,? Bagus itu. Kalau gitu, HPnya dipasang alarm jam 3-an, biar bisa bangun”
“Tapi….
kan aku suka susah bangun bu, biar sudah pasang alarm. Gimana dong?
Lagian kamarku di atas, mau wudhu dan sholat mesti ke bawah” ujarnya,
tampak ragu.
“Emm, gini aja. Sementara kakak pindah di bawah. Kamar
depan kan kosong. Biar ayah atau ibu bisa memastikan kakak benar2
bangun untuk tahajud. Gimana?”
“Iya deh..”
Dan malam

tadi, ternyata tak cuma kak Hurin yang ikut bertahajud, tapi juga
adiknya, Adnin (klas 3 SD), yang dasarnya mudah sekali terbangun jika ada suara
berisik, pun ikut sholat tahajud. Adnin bahkan ikut sholat subuh ke
masjid bersama ayahnya. Alhamdulillah.
Jadi ingat masa kecil
sendiri. Seusia Adnin waktu itu, klas 3 SD juga, sudah menjadi rutinitas
ikut ibu sholat subuh di masjid dekat rumah. Suatu hari, aku bangun
geragapan, kesiangan. Menyadari subuh telah lama lewat, aku menghampiri
ibu. Lalu beliau menjelaskan, pagi itu aku sengaja tak dibangunkan
karena ibu melihat kemaren aku sangat kelelahan dan tidur larut malam,
tak tega. Tapi, mendengar penjelasan ibu, bukannya aku memahami, malah
tetap menangis, kecewa, karena tak bisa ikut jamaah sholat subuh seperi
biasa. Maafkan aku ibu… menuntut hal yang tak pada tempatnya😦
Rabbi, semoga rutinitas ibadah yang seperti ini pun bisa kubudayakan di keluarga kecilku, kini.
Dan,
pagi tadi, usai sholat subuh, aku sempatkan tilawah beberapa halaman.
Tak lama kemudian, kulihat, Adnin menenteng Qur’an-nya ke kamar. Sambil
diseling minum susu coklat kesukaannya, ternyata dia ikut tilawah juga.
Aku tersenyum melihatnya. Kembali terharu.
Lalu, saat aku mengangkat dede Hibban yang mulai terbangun, kak Hurin mendekatiku, bertanya, “Bu, al Ma’tsurat dimana?”
“Oh, kakak mau baca? Ada di tas ibu tuh. Sini2 kita ma’tsuratan bareng aja”
“Ibu sudah hafal? ” tanyanya
“insya Allah” jawabku sambil tersenyum.
“Aku baru setengah hafal, Jadi harus sambil lihat” kata kakak.
Sejurus
kemudian, berdengunglah suara ibu dan anak ini mengucap kalimah demi
kalimah dzikir alma’tsurat. Syahdu terasa di hatiku. Terus terang, baru
kali ini aku matsuratan berdia dengan putriku ini, justru di pagi
menjelang dia akan berangkat ujian.
Baru setengah jalan
berma’tsurat jama’i, Adnin yang baru selesai tilawahnya, masuk ke
kamarku, dan kuajak ikut bergabung sekalian membaca al-matsurat
sebisanya. Bagi Adnin, ini memang agak asing, tapi semoga lama-lama
terbiasa.
Pagi ini, terasa penuh jiwaku ini dengan rasa
haru. Keajaiban pagi hari yang begitu indah telah kurasakan,
mengalahkan hidangan selezat apa pun yang telah tersedia di meja makan.
Terbukanya pintu hati seorang anak, ‘hidangan’ nikmat apa lagi selain
hal itu?
Melihat niat dan kemauan dari dua gadis kecilku,
dengan inisiatif sendiri, melakukan selama ini yang mungkin mereka
lihat pada orang tuanya. Tanpa paksaan, bahkan tanpa ajakan. Murni
inisatif sendiri.
Rabbi, ampuni aku jika aku belum bisa menjadi contoh yang paripurna bagi mereka ….
Betapa anak-anak membutuhkan banyak contah
keseharian, yang kemudian hal itu akan masuk dalam jiwa mereka, menjadi
azzam yang kuat, bahkan tanpa mereka sadari.
Hingga
momen UASBN seperti ini bukan menjadi momen yang tegang menakutkan,
tapi menjadi momen syahdu penuh ibadah, pasrah pada ketentuan-Nya,
setelah ikhtiar basyariah coba dikejar pada beberapa waktu sebelumnya.
Duhai putriku
Pergilah dengan tenang ke sekolah
Hadapi soal2 di depanmu dengan ketelitian
dan penuh kejujuran
setelah upaya tak kenal jemu
dan doa panjang tiap waktu
Kini saatnya ayah ibu pasrah
akan taqdir-Nya untukmu
apapun itu
Insya Allah, Dia tak akan mengecewakan hambaNya
yang telah giat berusaha
Selamat ujian anakku, doaku menyertaimu
#pamulang, 10 Mei 2011

————————————-

Pagi ini, hari pertama dari terbebasnya aroma laporan bulanan, akhirnya menyempatkan diri untuk menengok milist yang uda 10 hari tak terbaca dengan ‘cermat’.
Bu Mukti, seorang kawan di milis menuliskan ceritanya hari ini.
Dan here we are, mencoba nge share tulisan beliau, karna ada rasa haru ketika membacanya.
Cerita polos apa adanya yang tertuang dalam tulisan itu menggambarkan bagaimana seorang ibu telah mencapai haru ketika melihat buah hatinya lekat dengan Allah.

Terus terang, saya kagum. Sebagai seorang permpuan, dan insya Allah akan menjadi ibu, kita memang memiliki tanggungjawab luar biasa atas bangsa ini.
Bisa dibayangkan, bagaimana generasi kita jika anak-anaknya seperti kak Hurin atau Adnin?Subhanallah..
Makin kagum saya pada seorang ibu rumah tangga yang tugasnya melebihi perhitungan segala aspek manajemen perusahaan, atau mempertanggungjawabkan segala pencatatan pelaporan keuangan perusahaan.

Jangan pernah menganggap ibu rumah tangga itu mudah, bahkan ibu rumah tangga yang ikhlas mendidik anak2nya adalah pemilik nilai tertinggi di mata Allah dibanding ibu-ibu yang sangat berhasil dengan karirnya, namun tidak begitu mengenal sosok anak dan suaminya.Naudsubillahmindalik. Bukan tanpa fakta, pada kenyataanya memang demikian. Saya mengenal ibu yang berhasil dalam bidang pekerjaanya, tapi sayang, rumahnya penuh dengan kekakuan cengkrama.

Membayangkan saya, rasanya masih sangat perlu belajar. Seperti yang Bu Mukti bilang, betapa anak-anak membutuhkan contoh yang akan masuk dalam jiwa mereka, menjadi azzam yang kuat, bahkan tanpa mereka sadari, maka akan sangat tidak mungkin anak-anak kita bersholat jamaah, jika kita saja malas ke masjid/mushola/ langgar.

Menjadi ibu itu anugerah,
menjadi ibu itu membanggakan,
menjadi ibu itu kunci keberhasilan atau kehancuran suatu kaum,
menjadi ibu itu KEBANGGAAN..

yuk belajar jadi ibu favorit ;)”

Posted on

>

Subhanallah…
Bahkan mereka tak segagah dan secantik dulu…
Bahkan mereka bukan raja atau ratu 
yang mahal pakaiannya
yang memiliki berlian dan logam mulia

Mereka telah senja…
dengan jaket dan sweater biasa
bukan sutra, apalagi ada di istana

Tapi senyum mereka berucap:
“aku bahagia!”
dengan saling menggenggam..
Dan memandang dalam…
seolah sepasang pengantin ‘anyar’
yang masih akan mengembangkan layar




Mereka keriput
tapi cintanya tak menciut
justru makin merajut… membentuk warna keindahan tiap waktu


Meski tubuh sang istri kini melebar,
namun tatapan cinta suami tak memudar.
Justru makin membuatnya berbinar
karnanya, anak-anak mereka terlahir sehat
Meski sang suami tak setampan dulu
tapi masih mampu membuat istri tersipu


Subhanallah…
Senyum mereka senyum cinta…
Akan kecintaan masing-masingnya..
tanpa memandang kilau dunia
inginnya menjadi seperti mereka..
menua berdua
penuh kasih CINTA..
sampai ke syurga..

-terinspirasi note sebelumnya-
dedicated to my beloved one: Abi 

>KITA TUA BERSAMA… INDAH….

Posted on

>

dedicated to my hubby..
————————————–
Bismillaahirrahmaanirrahiim……..!!!!!!!!

Sayang…….  Aku ingin akulah yang pertama menemukan uban
di antara helai-helai rambutmu
dan menggaruknya ketika engkau mengeluh kulit kepalamu tiba-tiba menjadi lebih gatal dari biasanya.
Dan ketika helai-helai itu semakin bertambah
dengan suka cita aku akan menyisirinya, tak perlu meminta pewarna rambut.

Sayang, rambut kelabumu kan tampak seksi di mataku. 
Tak perlu khawatir…….
Aku siap mencarikan kacamatamu ketika kamu lupa tempat menaruhnya.
Atau akan kubuatkan sebuah kotak segala ada, tempat engkau dapat menaruh semua barang dan perkakasmu sesukanya.
Ketika malam-malam dingin dan rasa ingin pipis tak tertahan lagi,
jangan ragu untuk membangunkanku. Sayang….. ini tanganku di sampingmu jangan ragu jadikan tanganku sebagai peganganmu. 

Sayang…….  Aku tidak menginginkan yang muluk-muluk.
Aku ingin mendampingi masa tuamu, aku ingin tua di sampingmu, bersamamu. 
Sehat, sehatlah sayang…….
Agar engkau juga sempat meraba kepalaku yang ditumbuhi uban,
agar sempat aku memamerkan gigiku yang mulai tanggal.  

Sehat, sehatlah sayang…….
Agar ketika kita tua, kita masih sanggup menemani anak cucu kita bermain bersama.
Atau sekedar mengunjungi mereka saat hari libur tiba.
Kupikir lebih baik kita saja yang mengunjungi mereka sambil membawakan makanan kesukaan mereka. Mungkin nanti anak cucu kita akan lebih sibuk dari hari-hari sibuk yang kita jalani sekarang. Kita akan jadi orang tua yang paling pengertian ya kan, sayang….. 

Sayang…….  Aku ingin tetap mesra bersamamu, hingga tua.
Tetap membisikkan kata cinta, meski pendengaran kita semakin berkurang.
Jangan malu untuk sedikit berteriak di telingaku ya…?!
Kau tahu, aku sangat suka mendengarkan ungkapan sayangmu.

Ku ingin kita…….
Tetap saling memanja, semampu tenaga yang masih kita miliki.
Anak, cucu, ponakan dan keluarga kita pasti akan menyangi kita berdua,
tapi percayalah aku yang paling tau cara memanjakanmu
demikian engkau yang paling tau cara memantik binar di mataku.  

Bila waktu memang menggerus banyak hal…..
Bila usia memang mengikis banyak hal…..
Aku berharap, semoga itu bukan cinta dan kasih sayang kita. 

Bila memang tiada yang abadi…..
Bila memang semua akan berakhir…..Bila memang semua akan terhenti…..
Aku berharap, sepanjang waktu yang kita miliki, temani aku untuk melakukan yang terbaik untuk cinta yang kita punya.
Menjadikan cinta dan hubungan yang kita bina sebagai anugerah paling indah dan paling berharga.  

Apapun boleh berhenti, tapi tidak dengan niatan tulus untuk saling mengasihi.
Apapun boleh usai, tapi tidak dengan upaya gigih untuk saling mejaga, upaya gigih untuk saling membahagiakan.

Sayang…….
Hari ini, menit ini, detik ini,
aku seperti bisa menatap proyektor besar tak bertepi,
memutar film tak berjudul yang kita perankan, ada dua tangan keriput yang saling menggenggam.
Tanganku dan tanganmu.
Tapi ketika adegan berganti, saat film hampir usai, aku tak sanggup lagi menatapnya, semua menjadi kabur dan basah oleh Air Mata.

  __________________________  ________________________
*-Ku ingin mencintai mu sepenuh hatiku, tapi tak bisa
*-Ku ingin bersama mu selamanya, tapi takkan mungkin
*-Ku ingin sehidup semati dengan mu, tapi semua itu gombal belaka
*-Karena ku ingin hanya Allah dihati ku
*-Yang Takkan Meninggalkan ku, Takkan Berpisah dan selama-lamanya krn semua itu bukan gombal  *-Kalau pun aku mencintai mu, itu karena Allah
*-Karena Dia-lah yang menggerakkan hati ku untuk menyayangi mu
*-I love you, Mas Fajarku….. because “Uhibbuka fillah”   

  ————  copy dari tetangga negri sebrang